Kita semua pasti udah tau ‘n sering banget denger tentang remaja dengan dunianya yang ‘gemerlap’ saking gemerlapnya remaja itu sendiri sampe-sampe ga bisa ngontrol dirinya. Ada yang jadi tergantung sama narkoba lah, free sex seakan jadi sebuah kebutuhan, bahkan jadi pelacur. Mungkin kalian yang baca tulisan ini mikir ,”Ah…beginian mah basi!” Tapi taukah kalian ‘beginian yang basi’ itu bisa nyebabin apa aja???


Gax cuman menambah kriminalitas aja, tetapi juga mental yang makin jatoh! Dan riset-riset udah membuktikan bahwa sebagian pelakunya adalah remaja!! Temen-temen kita, saudara-saudara kita, guyz!!Dan akankah kita, anak-anak Indonesia dengan budaya timurnya yang mengaku menjunjung tinggi moral membiarkan saudara-saudaranya makin terjerumus??Orang-orang sering justru bilang,”Makanya pergaulan dijaga!” Padahal tau gak, salah satu faktor yang menyebabkan remaja menjadi seperti ‘itu’ adalah kita sendiri yang ada di sekitarnya. Pernah denger tentang diskriminasi di sekolah-sekolah (baca HIGH CLASS => DISCRIMINATION) yang berujung pada bullying (penggencetan-red)??Ini bisa jadi salah satu faktor yang nyebabin mental remaja jadi jatoh. Mungkin saat kalian menjadikan temen kalian bulan-bulanan kalian, adalah sesuatu yang menghiburkan bagi kalian, dan kalian juga menganggap temen kalian itu gak akan tersinggung, kalian bisa aja minta maaf, tapi luka di hati itu tetap akan nimbulin bekas kayak koreng. Kita bisa aja menganggap itu adalah hal biasa, tapi sadar gak itu bisa membunuh jati diri temen kita??Menyedihkan ya, guyz?Kita yang sesama remaja, yang seharusnya bisa saling mengerti, justru saling menjerumuskan. Bukankah seharusnya kita bisa memahami perasaan temen kita??Yang lebih mengherankan, pembunuhan jati diri remaja ternyata tidak hanya dilakukan oleh kita temen-temennya, tetapi juga oleh orang-orang yang menyebut dirinya ‘pahlawan tanpa tanda jasa’

yang mungkin gak nyadar bahwa sedikit perkataan atau perbuatan yang dilakukan mereka terhadap murid didiknya dapat menjadi trauma bagi murid tersebut. Misalnya gini, pernah gak kalian-kalian ngeliet atau mungkin ngalamin sendiri, guru kalian gak percaya sama kemampuan kalian. Yah…mungkin gak secara langsung siih, misalnya guru kalian bilang ,”Kamu dapat100? Kamu tidak nyontek kan?” Kayaknya biasa ya…tapi untuk beberapa remaja yang memiliki perasaan yang halus, pertanyaan itu artinya,”Kamu gak mungkin bisa dapat 100, kamu pasti nyontek!” Positif, kalo remaja itu hadi terpacu buat nunjukin kemampuannya, tapi apa masih positif juga kalo murisnya sampai mikir,”Kalo gitu apa gunanya gue belajar? Gue gak mungkin bisa!” Padahal pencarian jati diri remaja justru hampir sebagian besar terjadi di sekolah, secara remaja menghabiskan sebagian waktunya di sekolah. Gue pernah baca di koran tentang seorang giri yang membunuh muridnya, atau tentang guru yang memperkosa muridnya. Okelah, gue yakin pihak sekolah pasti mecat tuh guru ‘gila yang lebih gila dari orang gila’. But…mang dengan mecat tuh guru, bisa ngegantiin kerugian remaja ‘korban’?? Gimana dengan trauma remaja tersebut?? Trauma memang bisa diobati, tapi itu butuh proses, dan gimana kalo remaja ‘korban’ itu gak kuat ngadepin proses itu? Ironis….ternyata mental anak-anak Indonesia yang jatuh karena orang-orang yang selalu bilang ‘Kalian adalah penerus bangsa, generasi-generasi muda Indonesia yang akan melanjutkan bangsa ini!’ Ck…ck..ck…

Dari semua yang di atas kayaknya masih belom seberapa…masih ada faktor yang punya andil lebih besar dibanding faktor-faktor yang lain..

Faktor itu adalah keluarga!