Seorang pegawai Bank Amro, M Fani (25), warga Jalan Petamburan V, RT 1/8, Kelurahan Petamburan, Kecamatan Tanahabang, Jakarta Pusat, yang mengaku menjadi korban short message service (SMS) santet Minggu (11/5) pukul 10.05, kemarin kondisinya sudah mebaik meski masih trauma.

Kepada Warta Kota, Senin (12/5) malam, Fani menyatakan, semula dirinya tidak percaya ada SMS santet. ”Tapi, saya sudah mengalami sendiri,” katanya.
Karyawan bank yang juga berjualan voucher isi ulang (pulsa) di rumahnya ini menyatakan, awalnya nada dering SMS itu berbunyi biasa saja dan tidak mencurigakan. ”Tetapi, setelahmenerima SMS itu, badan saya masih pegal seperti habis manggul beras sekarung. Hari ini (Senin) saya nggak masuk kerja Mas,” kata Fani.
Lelaki yang bekerja sebagai teller di Bank Amro, Jalan Sudirman, itu menyatakan SMS itu diterimanya saat dia menukar kartu ponsel miliknya, Motorola seri C-156, dari nomor Pro XL ke IM3. Pasalnya, Fani sedang menunggu SMS dari pacarnya yang biasanya mengirimkan SMS ke nomor IM3-nya. Namun, saat ponselnya sudah diganti kartu IM3, masuk sebuah SMS dari nomor ponsel 0866. SMS itu berbunyi: ”Anda telah dihubungi infra red tegangan tinggi 0866”.
Awalnya, lelaki bertubuh kurus itu tak terlalu menggubris. Fani menganggap, SMS itu dikirim orang iseng. Namun, tiga menit kemudian, pesan itu hilang dan layar ponselnya berubah warna menjadi merah menyala. Nah, saat itulah seluruh badannya terasa lemas dan keluar keringat dingin. Selain itu, mata Fani menjadi memerah dan wajahnya menjadi pucat.
Peristiwa itu berlangsung tidak lama, karena kakak Fani, Dewi Melanisari (28), pulang dari pasar. Melihat kondisi Fani, Dewi berusaha merebut ponsel yang digenggam Fani. Namun, entah kenapa Fani tidak bersedia memberikannya. Sehingga Fani dan Dewi saling rebut ponsel.
Setelah berhasil merebut ponsel, Dewi langsung mengeluarkan kartu IM3 dari ponsel. Lalu kartu itu dipatahkan dengan maksud agar pengaruh hipnotis dari ponsel terhadap Fani hilang.
Setelah itu, tubuh Fani lunglai dan hanya terduduk di bangku ruang tamu rumahnya. ”Setelah ponsel direbut kakak, saya lemas dan terasa kaki seperti lumpuh. Sampai sekarang rasa pegalnya masih terasa,” katanya.
Fani mengatakan tidak percaya hal-hal yang berbau mistik. Makanya saat menerima SMS dia tidak menganggap bahwa itu santet. Bahkan beberapa hari sebelumnya, Fani diperingatkan salah seorang temannya tentang adanya SMS santet yang dikirim oleh nomor 0866.
Namun, nyatanya Fani menjadi salah satu korban SMS. Anak bungsu pasangan Harliana (50) dan Ade Sujana (51) itu mengaku beruntung karena efek buruk dari SMS tidak sampai mencabut  nyawanya. ”Saya masih bersyukur karena saya nggak apa-apa, tapi jangan sampai terima SMS seperti itu lagi,” katanya.
Saat Fani terduduk lemas, ayahnya, Ade Sujana, menenangkannya. ”Saya tenangkan Fani, tapi susah sekali. Saya tunggu dia sampai capek dan tertidur,” kata Ade.
Diakui Ade, kondisi Fani saat menerima SMS  sedang  labil. Dalam seminggu terakhir, kata Ade, anaknya tengah menghadapi  banyak masalah. ”Seminggu terakhir kalau Fani pulang kantor sering mengeluh sakit dan capek. Bukan karena pekerjaan, tapi katanya ada masalah dengan temannya, tapi dia nggak mau cerita,” katanya.

Abaikan saja
Sementara itu, operator seluler PT Indosat Tbk mengimbau para pelanggan agar mengabaikan teror santet lewat short message dervice (SMS). Jika menerima SMS yang isinya meresahkan, sebaiknya segera dihapus, termasuk yang isinya pemberitahuan mendapat sebuah hadiah.
Division Head Public Relation PT Indosat Tbk, Adita Irawati, kepada Warta Kota kemarin mengatakan, beredarnya teror SMS santet bukan merupakan  ulah dari operator untuk mengeruk keuntungan. Pasalnya, operator mempunyai tanggung jawab secara hukum jika membuat program yang bisa menimbulkan keresahan.
Hal senada kemarin dikatakan Laksmi Nurwandini, Corporate Comunications PT Excelcomindo Pratama Tbk (XL). ”Sangat tidak mungkin operator membuat program yang meresahkan pelanggan. Masih banyak program yang  bisa membuat konsumen senang,” katanya kepada Warta Kota.
Agar konsumen tidak resah dengan teror SMS berantai, sebaiknya pelanggan langsung menghapus saja. ”Tidak ada manfaatnya isi SMS yang meresahkan masyarakat ditunjukkan, apalagi dikirim ke pelanggan lain. Hanya buang-buang pulsa saja,” kata Dini—panggilan akrab Laksmi Nurwandini.
Apakah nomor pengirim teror SMS santet bisa diblokir? Baik Dini maupun Adita menyatakan, nomor pengirim teror SMS bisa diblokir. Dengan catatan, yang mengajukan pemblokiran nomor adalah instansi keamanan dengan  dasar hukum dan bukti kuat.
Sementara Andreas Limawan, Presiden Direktur  PT Tirta Citra Nusantara, produsen telepon seluler merek HiTech  Mobile, terkejut dengan beredarnya SMS santet. ”Dari sisi teknologi sangat tidak masuk akal. Masak hanya menerima SMS bisa mati,” katanya sambil tertawa.

dari: wartakota