Film ML (Mau Lagi..?) yang akhirnya ditunda penayangannya oleh pembuatnya, Indika Entertainment, terus menuai protes. Kali ini datang dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). MUI menilai film ML tidak mendidik dan mengandung unsur pornografi. Sikap MUI itu disampaikan kepada para wartawan, Selasa (13/5), setelah MUI mendapat banyak laporan dari masyarakat melalui SMS. Mereka minta kepada MUI agar mengambil sikap untuk melarang penayangan film yang dinilai merusak generasi muda ini.
Menurut Ketua Bidang Fatwa MUI KH Amidhan ada beberapa hal dari film ini yang dinilai telah melanggar norma-norma pornografi dan pornoaksi. “Istilah yang digunakan ML konotasinya negatif yang merupakan singkatan dalam bahasa Inggris, yakni making love yang berarti berhubungan intim,” kata Amidhan.
Di samping itu menurut Amidhan, film karya sutradara Thomas Nawilis ini sarat dengan muatan pornografi dan pornoaksi yang menampilkan berbagai adegan ciuman dengan penuh birahi, hubungan intim sejenis, serta ungkapan kesaksian tentang hubungan intim yang diperankan tokoh dalam film ini.
“Masa melarang orang untuk mencuri, eh malah dia mengajari orang cara-cara melakukan pencurian. Itu sama saja bohong,” ucap Amidhan memberi contoh.
Amidhan mengakui, pihaknya memang belum menonton filmnya maupun membaca skenarionya, tetapi pihaknya sudah membaca novel dari film tersebut, yang intinya tidak berbeda jauh dengan apa yang disajikan dalam film.
“Ini melanggar KUHP pasal 281, 282, dan 283 tetang kesusilaan, mengumbar kesusilaan di muka umum. Di dalam  buku novel ini juga ada unsur pelecehan terhadap kaum perempuan di mana perempuan dijadikan taruhan,” katanya.
Oleh karena tidak mempunyai wewenang dan intervensi dalam hal teknis untuk melarang peredaran film itu, maka MUI hanya mendukung tindakan yang akan dilakukan Menbudpar, Menkominfo, Komisi Penyiaran Indonesia, dan Lembaga Sensor Film untuk membuat larangan edar film itu apabila ada protes dari masyarakat.
Sementara itu, Shanker BS, produser Indika Entertainment, selaku  penggarap film ML mengatakan,  penundaan  film tersebut lantaran terbentuknya opini negatif di masyarakat terkait bocornya cuplikan film (trailer) tersebut di jaringan internet.

DARI:WARTAKOTA