ADA yang janggal pada pemakaman dukun Usep, terpidana mati yang dihadapkan pada regu tembak Jumat (18/7) menjelang tengah malam. Kejanggalan itu adalah kain kafan yang membungkus raga Usep terkesan seadanya sehingga beberapa bagian tubuh Usep tidak tertutup kain berwarna putih tersebut.

Ketika Warta Kota mencari tahu mengapa kain kafan itu tidak sempurna membungkus raga Usep, diperoleh penjelasan bahwa itu sesuai permintaan terakhir sang terpidana mati. Menurut Yusup Suherman alias Usup (48), mertua Usep, menantunya minta dimakamkan dengan dibungkus kain kafan sepanjang tujuh meter.

Usup menjelaskan, seminggu sebelum menantunya dieksekusi, dirinya menemui Usep di LP Tangerang. Saat itu, Usep berpesan agar kelak, jika sudah meninggal, jasadnya dibungkus dengan kain kafan sepanjang tujuh meter. Jika petugas eksekusi menyerahkan mayat Usep dalam kondisi sudah dikafani, Usup diminta mengganti kain kafan tersebut dengan kain kafan yang tujuh meter.

Menurut Usup, umumnya panjang kain kafan untuk membungkus jenazah adalah 12 meter. Karena kain kafan pembungkus jasad Usep hanya tujuh meter, beberapa anggota tubuh Usep, seperti kaki dan tangan tidak tertutupi kain kafan tersebut. Para pelayat yang tidak tahu tentang hal tersebut, menganggap ada yang janggal pada pemakaman Usep.

Usup mengatakan Usep itu tidak menjelaskan secara rinci alasan mayatnya harus dimakamkan dengan kain kafan sepanjang tujuh meter. Usup pun sempat bertanya alasan Usep berpesan seperti itu. ”Wah, euta mah jero lamun digali (Wah, itu panjang kalau dicari tahu latar belakangnya—Red),” ujar Usup mengulang perkataan menantunya. Usup tak bertanya lagi.

Usep dieksekusi di sebuah tempat di wilayah hukum Kabupaten Lebak. Jenazahnya kemudian dimandikan dan dikafani di Puskesmas Cimarga, Lebak. Setelah diserahkan ke keluarga, jenazah Usep dimakamkan di samping makam almarhum Yuyun, ayahnya, di Desa Parungkujang, Kecamatan Cileles, Lebak.

Sedangkan kain kafan dan tikar yang digunakan untuk membungkus jenazah Usep saat keluar dari Puskesmas Cimarga dikubur di dekat rumah ibu kandung Usep, Ny Mimih, di Kampung Citeureup, Malingping, Lebak.

Terkait dengan pelaksanaan eksekusi, pihak keluarga sudah mengetahui dua minggu sebelumnya. Namun, tim eksekusi tetap merahasiakan lokasinya hingga eksekusi selesai. ”Usep memang ingin eksekusinya dilakukan pada malam Jumat, atau paling telat Jumat malam,” kata Usup.

Anak Usep

Sementara itu, pantauan Warta Kota pada Sabtu (19/7) siang, rumah Usup, di Kampung/Desa Cikareo, Cileles, dalam kondisi sepi. Meski demikian, keluarga Usup melaksanakan tahlilan selama sepekan.

Selain di rumah Usup, tahlilan juga dilakukan di dua tempat lain yakni di rumah orangtua Usep di Pasirkujang dan di kediaman Meti, saudara Usep, di Malingping.

Menurut Usup, dirinya tidak memasang tenda atau kursi untuk menerima tamu yang akan ikut mendaraskan doa bagi Usep. ”Kami tahlilan mengundang warga selama satu minggu. Semuanya di dalam rumah. Jadi nggak pake tenda atau kursi,” katanya.

Atikah, tetangga Usup, mengaku dirinya iba melihat dua anak Usep, Riki Nugraha dan Maimai. Mereka, dan ibunya, Yuli, hingga kemarin ada di rumah Usup. ”Warga sini merasa kasihan melihat dua anak yang ditinggal bapaknya itu,” ujarnya.

Usep yang nama lengkapnya Tubagus Maulana Yusuf, divonis hukuman mati di Pengadilan Negeri Lebak, Februari 2008. Seperti diketahui, Usep adalah pelaku pembunuhan terhadap delapan warga Tangerang pada Mei dan Juli 2007. Kedelapan orang tersebut adalah pengikut Usep yang mengaku sebagai dukun yang memiliki kemampuan mengangkat harta karun dari perut bumi. Untuk mengangkat harta karun itu,

Usep minta para pengikutnya menyetor uang. Belakangan, untuk menutupi belangnya, Usep meracun para pengikutnya itu dan menguburkan mereka di sebuah kebun di Lebak.

dari:wartakota